Sabtu, 13 Juni 2020

Pancasila Menjawab Tantangan Diskriminasi : Belajar Dari Kasus Di Amerika


Peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat pada 25 Mei lalu menjadi perhatian dunia internasional, termasuk Indonesia. George Floyd, seorang pria Afrika-Amerika, terbunuh ketika ditangkap oleh polisi. Rekaman video kejadian menunjukkan bahwa seorang polisi kulit putih menjepit Floyd ke tanah saat dia diborgol. Lutut petugas polisi menekan bagian belakang leher Floyd selama lebih dari delapan menit, bahkan setelah Floyd kehilangan kesadaran dan meninggal di lokasi kejadian.
Insiden itu tersebar secara luas di media sosial. Hal ini menyebabkan kemarahan masyarakat secara luas baik di Amerika maupun di negara-negara lain. Beberapa dari protes ini bahkan berlangsung berhari-hari dan mendapat simpati dari banyak orang. Salah satu gerakan yang muncul yakni Black Lives Matter. adalah sebuah gerakan aktivis mancanegara, yang dimulai dari komunitas Afrika Amerika, yang aktif dalam menentang kekerasan maupun rasisme sistemik terhadap orang kulit hitam. BLM rutin menyelenggarakan demonstrasi memprotes kematian orang kulit hitam di tangan polisi, dan isu-isu terkait seperti profiling berdasarkan ras, kebrutalan polisi, dan bias rasial dalam sistem peradilan pidana di Amerika Serikat.
Diskriminasi memang masih terjadi di berbagai belahan dunia dan menjadi suatu hal yang tidak terhindarkan. Karenanya Surabaya Interfaith Forum pada diskusi kali ini membahas tema yang relevan dengan peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat tersebut dengan harapan dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia mengenai pentingnya sikap melawan diskriminasi. Diskusi diselenggarakan tepat pada Bulan Pancasila 12 Juni 2020 yang diikuti peserta sekitar 80an orang sehingga tema dari acara ini yakni “Pancasila Menjawab Tantangan Diskriminasi: Belajar dari Kasus di Amerika”. 
Adapun narasumber yang dihadirkan pada diskusi kali ini yakni Pdt. Andri Purnawan (Pendeta GKI Darmo Satelit Surabaya dan Mahasiswa Pascasarjana di Boston University), Febrian Nindyo (Musisi Grup Musik HiVi dan aktivis sosial & kepemudaan), Aan Anshori (Penerima Beasiswa U.S. International Visitor Leadership Program 2017). Diskusi dilaksanakan secara daring melalui Aplikasi Zoom pada 12 Juni 2020 lalu dan didukung oleh berbagai komunitas seperti Roemah Bhinneka, Gusdurian Jombang, dan Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD). 
SS Pemaparan Materi Oleh Para Pembicara - By @ajengadindaa
Berkaca pada Rasisme di Amerika
Sesi pertama dibawakan oleh Pdt Andri Purnawan yang menerangkan secara rinci mengenai sejarah dan kronologi rasisme yang terjadi di Amerika Serikat. Setidaknya terdapat empat hal yang memicu terjadinya tindak rasisme di Amerika: terjadinya ketidakadilan dalam sistem peradilan terhadap ras tertentu, pelanggaran dan kebrutalan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dan keamanan kepada ras tertentu, kurangnya kepemimpinan nasional yang ditunjukkan oleh para elit politik maupun pemimpin negara. Ketiga hal tersebut diperparah dengan kondisi yang dihadapi oleh dunia saat ini yakni pandemi Covid-19.
Dalam konteks Indonesia, kita bersyukur bahwa para founding fathers telah merumuskan apa yang disebut Pancasila. Inilah yang kemudian menjadi keunikan bagi Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal tersebut yang ditekankan oleh pembicara kedua yakni Febrian Nindyo. “Kita harus bersyukur telah lahir dan berkehidupan di sebuah tanah air dengan masyarakat yang beragam namun mampu hidup rukun, terikat oleh satu pedoman kuat yang harus kita jaga bersama, yaitu Pancasila”, ungkapnya. 
Meski tidak dapat disangkal bahwa praktik diskriminasi, berbeda bentuk dan konteks dengan apa yang terjadi di Amerika, juga terjadi di Indonesia. Aan Anshori memaparkan dengan rinci ba
SS Para Pembicara & Peserta di Akhir Diskusi Daring - By @yonathanawaw
gaimana persekusi yang masih terus dilakukan oleh beberapa kelompok mayoritas kepada kelompok minoritas, utamanya bagi kelompok agama, suku, hingga orientasi seksual yang berbeda. Sikap demikian yang terus mengundang masyarakat dan utamanya bagi anak muda untuk memperjuangkan berbagai diskriminasi dan praktik intoleransi yang masih terjadi tersebut. 
Menggerakan Anak Muda 
Febrian Nindyo yang merupakan musisi dari HiVi memiliki beragam cara untuk dapat mendaratkan pesan dan nilai-nilai keragaman itu sendiri, salah satunya melalui musik sehingga dapat dengan mudah diterima oleh anak-anak muda. Pengalaman demikian yang kemudian menunjukkan bahwa kita tidak pernah bisa hidup sendiri. Stereotyping / judge memang harus kita akui sebagai salah satu sifat buruk manusia. Tapi kita bisa memilih untuk meredamnya dan mencoba mengenal lebih jauh, atau mengeluarkannya dan menyakiti perasaan orang lain serta berlanjut ke tindakan buruk lainnya.
SS Para Pengurus SBY Interfaith Forum di Akhir Acara - By @yonathanawaw
Satu cara yang dapat dicoba bagi anak muda untuk menanamkan sikap anti diskriminasi yakni dengan cara berteman, bersosialisasi, dan berkomunitas. Bergabung dan bersosialisasi sebanyak mungkin untuk lebih memahami. Bertemu banyak orang paling tidak bisa melatih kita untuk bisa berbicara dengan baik, mendengar dengan baik, dan memperlakukan orang dengan baik/sesuai. Berkomunitas bisa melatih kita untuk menemukan kesamaan tujuan bersama diantara perbedaan-perbedaan yang ada, kemudian mengejarnya bersama-sama untuk kepentingan bersama, bukan diri sendiri.

Written by @jacko.ryan
Editor @joe_sava