Rabu, 26 Februari 2020

Menyoal Larangan Valentine



Pada 25 februari 2020, Surabaya Interfaith Forum mengadakan diskusi kembali terkait “Menyoal larangan valentine” yang diadakan di Kantor PW GP Ansor, Surabaya. Adapun pembicaranya ialah Aan Anshori (Koordinator Islam Anti Diskriminasi), M.Hasan Bisri (Sekretaris Dewan Instruktur PW GP Ansor JATIM) dan Jacko Ryan (Co-Founder Surabaya Interfaith Forum), Yang di moderatori oleh Sdri. Paskah Nainggolan (Jemaat GKI Krian). Acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian doa pembuka secara agama Katolik. Pada sesi pertama, diskusi diawali oleh Bapak Bisri mengenai tanggapannya tentang valentine dan menyatakan bahwa penerapan “seni, budaya dan taqwa” adalah hal penting yang perlu kita pahami dengan bijak. Pembicara selanjutnya oleh Jacko Ryan mengenai sejarah valentine dan isu sosial dan politik yang berkaitan dengan perayaan valentine. Terakhir, pembicara Gus Aan menambahkan hal valentine sebelum dan sesudah reformasi dan alasan beberapa masyarakat yang tidak menerima perayaan tersebut. 
Sdri. Paskah (moderator) & Sdr. Jacko (Co-Founder SIF)  - photo by @joe_sava
Diskusi ini mengajak kita untuk belajar menyelami konteks valentine sehingga meciptakan pemikiran yang terbuka karena berbicara soal valentine hanya dari perspektif diri kita sendiri tidaklah cukup tanpa melihat pandangan lainnya yang jauh lebih luas dan beragam sehingga kita perlu merenungi apakah pandangan kita sendiri sudah benar atau sangatlah tepat?. Begitu pun dengan saya, ini menjadi pengalaman yang berkesan menjadi moderator di dalam diskusi ini, saya juga banyak belajar dan memaknai bahwa persoalan hari valentine, valentine adalah budaya, akan terasa kompleks jika kita memperdebatkan.  yang lebih berarti bahwa valentine sendiri salah satu wujud kasih yang bisa kita sampaikan kepada sesama.
Para peserta diskusi - photo by @joe_sava
Diskusi kali ini dihadiri oleh banyak kalangan, dari mahasiswa hingga tokoh agama. Selama diskusi, kami saling memberikan tanggapan dan memberi solusi bahwa sebagai generasi muda, kita juga perlu melakukan aksi konkret, yang dapat dimulai dari kegiatan sosial yang dijalankan bersama rekan pemuda beragama lainnya. Dan di akhir acara ditutup dengan doa secara agama Islam.




Written by @paskah.nainggolan
Editor @joe_sava

Minggu, 02 Februari 2020

Nobar Film "Ngenest" & Bincang-bincang Tionghoa di Indonesia

Banyak sekali pergumulan yang dihadapi oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia, berhadapan dengan stigma-stigma yang muncul mengenai masyarakat Tionghoa sangatlah meresahkan bagi mereka, sama halnya yang dialami oleh Ernest dalam Film “Ngenest” yang telah ditayangkan dalam nonton bareng ini pada kegiatan Surabaya Interfaith Forum pada tanggal 31 Januari 2020 di Klenteng Boen Bio Surabaya. Namun ternyata tak hanya pada film itu saja keresahan mengenai stigma yang menempel pada masyarakat Tionghoa, pembicara kita selaku Js. Liem Tiong Yang pun juga merasakannya. Beliau menceritakan beberapa diskriminasi yang ia lewati semasa hidupnya, mulai dari mendapatkan cemoohan “Cina!”, diskriminasi sosial, arahan untuk berganti nama Indonesia dan yang lainnya pun telah beliau rasakan. Namun, beliau tetap gigih dengan satu prinsip yaitu “Keberanian”. Dengan keberanian itu pasti akan mampu membaur dengan masyarakat sekitar, meskipun memang tidak mudah dan pasti merasakan permulaan yang berat. 
Ketua Surabaya Interfaith Forum - photo by @yonathanawaw
Nobar Film Ngenest karya Ernest Prakasa - photo by @yonathanawaw
Berbicaralah persoalan diskriminasi maupun hal sejenisnya yang mampu menciptakan “Gap” diantara masyarakat Indonesia, ingatlah, bahwa kita adalah masyarakat yang tinggal di bawah rumah Bhinneka Tunggal Ika. Semangat persatuan dan kesatuan bukan hanya sekadar kata-kata atau semboyan yang sering kita dengar, akan tetapi harus diimplementasikan secara nyata di dalam kehidupan sehari-hari. 

Js. Liem Tiong Yang - photo by @yonathanawaw

Etnis Tionghoa atau masyarakat Khonghucu pun juga demikian, marilah kita ikut andil dalam menjaga kerukunan antarsesama agar tercipta kerukunan yang sejati. Saling mengenal satu sama lain dan saling melengkapi sebagai Warga Negara Indonesia adalah tugas kita bersama untuk mewujudkan Indonesia lebih baik.

Written by @abrahamdyllonwinata_ & @ajengadindaa
Editor @yonathanawaw