Sabtu, 13 Juni 2020

Pancasila Menjawab Tantangan Diskriminasi : Belajar Dari Kasus Di Amerika


Peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat pada 25 Mei lalu menjadi perhatian dunia internasional, termasuk Indonesia. George Floyd, seorang pria Afrika-Amerika, terbunuh ketika ditangkap oleh polisi. Rekaman video kejadian menunjukkan bahwa seorang polisi kulit putih menjepit Floyd ke tanah saat dia diborgol. Lutut petugas polisi menekan bagian belakang leher Floyd selama lebih dari delapan menit, bahkan setelah Floyd kehilangan kesadaran dan meninggal di lokasi kejadian.
Insiden itu tersebar secara luas di media sosial. Hal ini menyebabkan kemarahan masyarakat secara luas baik di Amerika maupun di negara-negara lain. Beberapa dari protes ini bahkan berlangsung berhari-hari dan mendapat simpati dari banyak orang. Salah satu gerakan yang muncul yakni Black Lives Matter. adalah sebuah gerakan aktivis mancanegara, yang dimulai dari komunitas Afrika Amerika, yang aktif dalam menentang kekerasan maupun rasisme sistemik terhadap orang kulit hitam. BLM rutin menyelenggarakan demonstrasi memprotes kematian orang kulit hitam di tangan polisi, dan isu-isu terkait seperti profiling berdasarkan ras, kebrutalan polisi, dan bias rasial dalam sistem peradilan pidana di Amerika Serikat.
Diskriminasi memang masih terjadi di berbagai belahan dunia dan menjadi suatu hal yang tidak terhindarkan. Karenanya Surabaya Interfaith Forum pada diskusi kali ini membahas tema yang relevan dengan peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat tersebut dengan harapan dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia mengenai pentingnya sikap melawan diskriminasi. Diskusi diselenggarakan tepat pada Bulan Pancasila 12 Juni 2020 yang diikuti peserta sekitar 80an orang sehingga tema dari acara ini yakni “Pancasila Menjawab Tantangan Diskriminasi: Belajar dari Kasus di Amerika”. 
Adapun narasumber yang dihadirkan pada diskusi kali ini yakni Pdt. Andri Purnawan (Pendeta GKI Darmo Satelit Surabaya dan Mahasiswa Pascasarjana di Boston University), Febrian Nindyo (Musisi Grup Musik HiVi dan aktivis sosial & kepemudaan), Aan Anshori (Penerima Beasiswa U.S. International Visitor Leadership Program 2017). Diskusi dilaksanakan secara daring melalui Aplikasi Zoom pada 12 Juni 2020 lalu dan didukung oleh berbagai komunitas seperti Roemah Bhinneka, Gusdurian Jombang, dan Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD). 
SS Pemaparan Materi Oleh Para Pembicara - By @ajengadindaa
Berkaca pada Rasisme di Amerika
Sesi pertama dibawakan oleh Pdt Andri Purnawan yang menerangkan secara rinci mengenai sejarah dan kronologi rasisme yang terjadi di Amerika Serikat. Setidaknya terdapat empat hal yang memicu terjadinya tindak rasisme di Amerika: terjadinya ketidakadilan dalam sistem peradilan terhadap ras tertentu, pelanggaran dan kebrutalan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dan keamanan kepada ras tertentu, kurangnya kepemimpinan nasional yang ditunjukkan oleh para elit politik maupun pemimpin negara. Ketiga hal tersebut diperparah dengan kondisi yang dihadapi oleh dunia saat ini yakni pandemi Covid-19.
Dalam konteks Indonesia, kita bersyukur bahwa para founding fathers telah merumuskan apa yang disebut Pancasila. Inilah yang kemudian menjadi keunikan bagi Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal tersebut yang ditekankan oleh pembicara kedua yakni Febrian Nindyo. “Kita harus bersyukur telah lahir dan berkehidupan di sebuah tanah air dengan masyarakat yang beragam namun mampu hidup rukun, terikat oleh satu pedoman kuat yang harus kita jaga bersama, yaitu Pancasila”, ungkapnya. 
Meski tidak dapat disangkal bahwa praktik diskriminasi, berbeda bentuk dan konteks dengan apa yang terjadi di Amerika, juga terjadi di Indonesia. Aan Anshori memaparkan dengan rinci ba
SS Para Pembicara & Peserta di Akhir Diskusi Daring - By @yonathanawaw
gaimana persekusi yang masih terus dilakukan oleh beberapa kelompok mayoritas kepada kelompok minoritas, utamanya bagi kelompok agama, suku, hingga orientasi seksual yang berbeda. Sikap demikian yang terus mengundang masyarakat dan utamanya bagi anak muda untuk memperjuangkan berbagai diskriminasi dan praktik intoleransi yang masih terjadi tersebut. 
Menggerakan Anak Muda 
Febrian Nindyo yang merupakan musisi dari HiVi memiliki beragam cara untuk dapat mendaratkan pesan dan nilai-nilai keragaman itu sendiri, salah satunya melalui musik sehingga dapat dengan mudah diterima oleh anak-anak muda. Pengalaman demikian yang kemudian menunjukkan bahwa kita tidak pernah bisa hidup sendiri. Stereotyping / judge memang harus kita akui sebagai salah satu sifat buruk manusia. Tapi kita bisa memilih untuk meredamnya dan mencoba mengenal lebih jauh, atau mengeluarkannya dan menyakiti perasaan orang lain serta berlanjut ke tindakan buruk lainnya.
SS Para Pengurus SBY Interfaith Forum di Akhir Acara - By @yonathanawaw
Satu cara yang dapat dicoba bagi anak muda untuk menanamkan sikap anti diskriminasi yakni dengan cara berteman, bersosialisasi, dan berkomunitas. Bergabung dan bersosialisasi sebanyak mungkin untuk lebih memahami. Bertemu banyak orang paling tidak bisa melatih kita untuk bisa berbicara dengan baik, mendengar dengan baik, dan memperlakukan orang dengan baik/sesuai. Berkomunitas bisa melatih kita untuk menemukan kesamaan tujuan bersama diantara perbedaan-perbedaan yang ada, kemudian mengejarnya bersama-sama untuk kepentingan bersama, bukan diri sendiri.

Written by @jacko.ryan
Editor @joe_sava

Minggu, 03 Mei 2020

Pandangan Agama Kristen dan Islam dalam Beribadah di Rumah Saat Situasi Covid-19


Wabah Coronavirus Disease 2019 atau “Covid-19” telah memakan korban begitu banyak di penghujung awal tahun 2020 hingga pada bulan Mei 2020, korban di Indonesia terhitung sudah menembus 10.000 korban jiwa di akhir April 2020. Virus ini tak hanya menyerang secara kesehatan saja, akan tetapi juga menggoyang kestabilan ekonomi, pariwisata dan lain-lain. Oleh karenanya, pemerintah mulai mengerahkan kebijakan untuk tetap tinggal di rumah guna mengurangi kerumunan dan interaksi secara langsung. Tak terkecuali dalam ranah keagamaan, pemerintah pun juga telah membuat kebijakan untuk beribadah dan melakukan kegiatan keagamaan di rumah untuk sementara waktu hingga kasus persebaran Covid-19 ini sudah terkendali dan berkurang. Bagaimanakah pandangan agama Kristen dan Islam dalam menanggapi fenomena tersebut?

Kali ini Surabaya Interfaith Forum mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mengadakan diskusi daring. Pembicaranya adalah Ais Fashihah (Ketua Kopri PMII “Umar Tamim” UNIPDU Jombang 2016-2017) dan Pnt. Yonathan Adi Wijaya (Calon Pendeta GKI Mojosari) melalui Live Instagram @sby.interfaithforum dan @ais_fashihah pada Sabtu, 2 Mei 2020.

Pandangan Agama Kristen
Dalam pandangan agama Kristen yang dipaparkan Pnt. Yonathan, ibadah tidak harus dilakukan di gedung gereja, karena sejatinya gereja itu adalah tiap pribadi insan umatnya. Ibadah itu juga merupakan hubungan intim kita sendiri pada Allah jadi bagaimanapun cara kita berkomunikasi tak harus di gedung gereja sehingga dimanapun kita berada ibadah dan berdoa pada Sang Ilahi bisa kita lakukan. Pemerintah menganjurkan ibadah di gedung gereja sementara waktu tidak dilaksanakan agar penyebaran Covid-19 ini bisa berkurang dan juga tidak menambah lagi korban jiwa. Khususnya gereja kristen dibawah naungan sinode Gereja Kristen Indonesia atau “GKI” yang mana sudah menerapkan ibadah secara online via live streaming, sehingga jemaat GKI di seluruh Indonesia bisa mengikuti proses ibadah yang biasa dilakukan saat di gedung gereja, selain itu jemaat GKI juga bisa memberi persembahan dengan cara transfer melalui rekening gereja GKI masing-masing.

Untuk kegiatan persekutuan doa yang biasa dilakukan di rumah-rumah jemaat ataupun gedung gereja diganti melalui aplikasi yang bisa mempertemukan secara online seperti ZOOM, Google Meet, dan aplikasi daring lainnya. Sejauh ini beberapa hal yang dilakukan agama Kristen di Indonesia khususnya di gereja sinode GKI sudah melakukan pedoman protokol kesehatan dan anjuran pemerintah dalam melakukan kegiatan ibadah selama era krisis Covid-19.
SS live acara diskusi via instagram @sby.interfaithforum & @ais_fashihah 

Pandangan Agama Islam
Kemudian dalam agama Islam yang dipaparkan oleh Ais Fashihah, menyoal kegiatan ibadah yang dianjurkan oleh pemerintah agar dilaksanakan di rumah merupakan hal yang dirasa tepat dikarenakan persebaran Covid-19 yang menjadi masalah sosial besar akibat menelan banyak korban jiwa. Tokoh-tokoh agama dan masyarakat pun telah dijadikan sebagai panutan dalam setiap kebijakan-kebijakan yang dilakukan di era krisis saat ini. Baik Majelis Ulama Indonesia (MUI), Paus, dan tokoh agama lainnya telah menyepakati pula bahwa wabah pandemi ini disetarakan sebagai situasi yang darurat dan serupa perang, oleh sebab itu, mereka pun menyetujui keputusan pemerintah untuk mengurangi interaksi dan kerumunan dengan ibadah di rumah masing-masing.

Adapun beberapa alasan mengapa kebijakan untuk beribadah di rumah dirasa tepat, diantaranya sebagai berikut. Pertama, apabila kita kembalikan dari pemaknaan Islam itu sendiri yang mana memiliki arti “Membuat aman semua orang”, maka apabila kita tetap beribadah di masjid, kita tentu saja membuat orang-orang di sekitar atau bahkan orang-orang yang non-Muslim merasa panik dan cemas karena beberapa masyarakat yang lain tetap menjalankan ibadah sholat di masjid. Hal ini tentunya berlawanan dengan pemaknaan konsep Islam tersebut.

Kedua, berbicara mengenai ibadah wajib jama’ah di masjid, dalam Islam, hukum shalat berjama’ah di masjid yaitu “Sunnah Mu’akadah” yang berarti sunnah yang wajib. Sehingga pada era krisis pandemi Covid-19 saat ini, diperbolehkan untuk melaksanakannya di rumah masing-masing. Menyinggung besaran pahala yang akan didapat, bagi kaum Muslimin yang terbiasa atau “Istiqomah” dalam menjalankan ibadah di masjid, meski ia saat ini melakukannya di rumah akibat persebaran Covid-19, ia akan tetap mendapatkan pahala yang sama seperti ketika beribadah di masjid (termasuk pahala-pahala sunnah seperti langkah-langkah menuju masjid dan doa masuk masjid). Keutamaannya bahkan ia akan diberikan pula pahala sebanyak 25 kali lipat. Akan tetapi hal ini tidak berlaku bagi mereka yang terbiasa melakukan ibadah di rumah atau secara individual.

Ketiga, persoalan mengenai ibadah Jumat. Hadits Nabi mengatakan bahwa laki-laki muslim yang meninggalkan shalat ini akan disebut kafir. Allah pun menambahkan dengan tercabutnya kenikmatan beribadah dalam hatinya. Sebagai contoh, setelah meninggal kan sholat Jumat 3 kali berturut-turut, maka ia akan merasakan bahwa tidak ada keresahan dalam dirinya akibat perbuatan itu. Meski ada beberapa istilah dari para ulama terkait pelaksanaan ibadah shalat Jumat, yang mana boleh dilaksanakan di masjid minimal 4 orang dan ada juga yang minimal 40 orang. Muncullah respons MUI sebagai jalan tengah yaitu dengan membuat kebijakan sholat Jumat dilaksanakan di rumah saja dan diganti dengan shalat Dzuhur.

Keempat, Paus (pemimpin umat Katolik dunia) juga menempatkan situasi pada persebaran Covid-19 saat ini yaitu darurat setara dengan perang. Sehingga ada pengecualian-pengecualian khusus agar Misa bisa dilakukan tanpa ke gedung gereja. Demikian juga di dalam Islam, sebenarnya pada zaman dulu para nabi pun pernah terjadi keadaan persis atau serupa yang mana mereka menyuruh kaum Muslimin untuk beribadah di rumah masing-masing. Bahkan lafadz adzan diubah yang semula “hayya ‘ala shalah” menjadi “Shollu fii buyutikum” (shalatlah di rumah kalian).

Kelima, apabila dilihat dari segi mudharat, dengan kita sholat jama’ah di masjid akan mempercepat persebaran Covid-19 sehingga memang himbauan dan sosialisasi pemerintah untuk beribadah di rumah masing-masing sudah tepat. Hal ini dikarenakan apabila ibadah tetap dilakukan di masjid, maka kita akan mempercepat persebaran Covid-19 dengan menambah korban jiwa.

Keenam, apabila dalam pelaksanaan shalat Tarawih dilakukan di rumah masing-masing sudah tepat mengingat hukum melakukan ibadah ini yaitu sunnah. Umat Muslim di Indonesia dan dunia memang berlomba-lomba untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan di Bulan Suci Ramadhan, terutama sholat Tarawih. Utamanya, kita tahu bahwa salah satu syarat mendapatkan malam Lailatul Qadar itu menjalankan seluruh rangkaian ibadahnya, sehingga diusahakan untuk ditinggal dan bisa dilakukan di rumah selama pandemi Covid-19.

Ketujuh, menyoal Idul Fitri untuk bermaaf-maafan memang sudah menjadi kewajiban manusia bukan hanya pada saat lebaran itu saja. Tiap hari sebenarnya kita dianjurkan untuk harus bermaaf-maafan. Sunnah Rasul pun mengatakan bahwa setiap hari Jumat perlu untuk saling bermaafan kepada orang-orang terdekat. Dikarenakan hari Jumat merupakan hari perhitungan. Oleh karenanya, salah satu momentum selama pandemi Covid-19 yaitu perayaan Idul Fitri bisa dilakukan secara daring atau “online” (media sosial: Instagram, Whatsapp, Line, dll). Dikarenakan meski secara fisik tidak bertemu, tetapi kita tetap terhubung di rumah masing-masing dengan jaringan internet.


Written : @joe_sava & @ajengadindaa


Rabu, 26 Februari 2020

Menyoal Larangan Valentine



Pada 25 februari 2020, Surabaya Interfaith Forum mengadakan diskusi kembali terkait “Menyoal larangan valentine” yang diadakan di Kantor PW GP Ansor, Surabaya. Adapun pembicaranya ialah Aan Anshori (Koordinator Islam Anti Diskriminasi), M.Hasan Bisri (Sekretaris Dewan Instruktur PW GP Ansor JATIM) dan Jacko Ryan (Co-Founder Surabaya Interfaith Forum), Yang di moderatori oleh Sdri. Paskah Nainggolan (Jemaat GKI Krian). Acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian doa pembuka secara agama Katolik. Pada sesi pertama, diskusi diawali oleh Bapak Bisri mengenai tanggapannya tentang valentine dan menyatakan bahwa penerapan “seni, budaya dan taqwa” adalah hal penting yang perlu kita pahami dengan bijak. Pembicara selanjutnya oleh Jacko Ryan mengenai sejarah valentine dan isu sosial dan politik yang berkaitan dengan perayaan valentine. Terakhir, pembicara Gus Aan menambahkan hal valentine sebelum dan sesudah reformasi dan alasan beberapa masyarakat yang tidak menerima perayaan tersebut. 
Sdri. Paskah (moderator) & Sdr. Jacko (Co-Founder SIF)  - photo by @joe_sava
Diskusi ini mengajak kita untuk belajar menyelami konteks valentine sehingga meciptakan pemikiran yang terbuka karena berbicara soal valentine hanya dari perspektif diri kita sendiri tidaklah cukup tanpa melihat pandangan lainnya yang jauh lebih luas dan beragam sehingga kita perlu merenungi apakah pandangan kita sendiri sudah benar atau sangatlah tepat?. Begitu pun dengan saya, ini menjadi pengalaman yang berkesan menjadi moderator di dalam diskusi ini, saya juga banyak belajar dan memaknai bahwa persoalan hari valentine, valentine adalah budaya, akan terasa kompleks jika kita memperdebatkan.  yang lebih berarti bahwa valentine sendiri salah satu wujud kasih yang bisa kita sampaikan kepada sesama.
Para peserta diskusi - photo by @joe_sava
Diskusi kali ini dihadiri oleh banyak kalangan, dari mahasiswa hingga tokoh agama. Selama diskusi, kami saling memberikan tanggapan dan memberi solusi bahwa sebagai generasi muda, kita juga perlu melakukan aksi konkret, yang dapat dimulai dari kegiatan sosial yang dijalankan bersama rekan pemuda beragama lainnya. Dan di akhir acara ditutup dengan doa secara agama Islam.




Written by @paskah.nainggolan
Editor @joe_sava

Minggu, 02 Februari 2020

Nobar Film "Ngenest" & Bincang-bincang Tionghoa di Indonesia

Banyak sekali pergumulan yang dihadapi oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia, berhadapan dengan stigma-stigma yang muncul mengenai masyarakat Tionghoa sangatlah meresahkan bagi mereka, sama halnya yang dialami oleh Ernest dalam Film “Ngenest” yang telah ditayangkan dalam nonton bareng ini pada kegiatan Surabaya Interfaith Forum pada tanggal 31 Januari 2020 di Klenteng Boen Bio Surabaya. Namun ternyata tak hanya pada film itu saja keresahan mengenai stigma yang menempel pada masyarakat Tionghoa, pembicara kita selaku Js. Liem Tiong Yang pun juga merasakannya. Beliau menceritakan beberapa diskriminasi yang ia lewati semasa hidupnya, mulai dari mendapatkan cemoohan “Cina!”, diskriminasi sosial, arahan untuk berganti nama Indonesia dan yang lainnya pun telah beliau rasakan. Namun, beliau tetap gigih dengan satu prinsip yaitu “Keberanian”. Dengan keberanian itu pasti akan mampu membaur dengan masyarakat sekitar, meskipun memang tidak mudah dan pasti merasakan permulaan yang berat. 
Ketua Surabaya Interfaith Forum - photo by @yonathanawaw
Nobar Film Ngenest karya Ernest Prakasa - photo by @yonathanawaw
Berbicaralah persoalan diskriminasi maupun hal sejenisnya yang mampu menciptakan “Gap” diantara masyarakat Indonesia, ingatlah, bahwa kita adalah masyarakat yang tinggal di bawah rumah Bhinneka Tunggal Ika. Semangat persatuan dan kesatuan bukan hanya sekadar kata-kata atau semboyan yang sering kita dengar, akan tetapi harus diimplementasikan secara nyata di dalam kehidupan sehari-hari. 

Js. Liem Tiong Yang - photo by @yonathanawaw

Etnis Tionghoa atau masyarakat Khonghucu pun juga demikian, marilah kita ikut andil dalam menjaga kerukunan antarsesama agar tercipta kerukunan yang sejati. Saling mengenal satu sama lain dan saling melengkapi sebagai Warga Negara Indonesia adalah tugas kita bersama untuk mewujudkan Indonesia lebih baik.

Written by @abrahamdyllonwinata_ & @ajengadindaa
Editor @yonathanawaw

Minggu, 15 Desember 2019

Sharing Session : "Natal dan Semangat Toleransi di Indonesia"

Menyambut Natal, kerap kali muncul perdebatan yang menyangkut rusaknya hubungan antara umat beragam di Indonesia. Hal tersebut yang kemudian menjadi keprihatinan bagi banyak masyarakat serta mendorong Surabaya Interfaith Forum untuk menyelenggarakan diskusi terkait hal tersebut. Hal ini yang coba dikenalkan pada pemuda-pemuda se Kota Surabaya dengan sharing session bertajuk “Natal dan Semangat Toleransi di Indonesia”. Diskusi yang diselenggarakan pada Jumat, 13 Desember 2019 tersebut diadakan di Pendopo GKJW Sukolilo Jalan Semolowaru Bahari, Surabaya. Empat pemantik diskusi pun dihadirkan pada acara tersebut yakni Pdt. Hariyan Triasmoroadi (GKJW Sukolilo), Rahma Rabbi (YIPC Surabaya), Josua Bernard (Koordinator YIPC Surabaya) dan Ajeng Adinda (Surabaya Interfaith Forum). Sharing Session juga berlangsung lebih meriah karena terdapat penampilan Band UKM dari Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya.

Pdt. Hardiyan Triasmoroadi (GKJW Sukolilo Surabaya) - photo by @joe_sava 
Sharing dimulai dari Josua Bernard yang mengenalkan komunitas Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Surabaya kepada para hadirin. Itu merupakan komunitas anak muda yang bergerak dalam isu keagamaan terutama terkait dengan relasi Kristen dan Islam. Juga dari Rahma Rabbi serta Ajeng Adinda yang menceritakan pengalaman keaktifannya dalam berbagai kegiatan lintas iman dan berbagai pengalaman pribadi dibalik aktifnya mereka dalam hal tersebut. Berbagai stigma dan pandangan negatif tentu mengarah dan tertuju kepada mereka berdua, namun hal tersebut tidak menjadi halangan untuk dapat menjalin relasi dan ikut terlibat dalam berbagai kegiatan lintas iman. “Kita jangan mau untuk dilarang berelasi tanpa dasar yang benar. Sebagai mahkluk sosial, justru seharusnya kita mau bersifat terbuka: berelasi dengan siapapun tanpa memandang latar belakang”, ungkap Ajeng dan Rahma. Diskusi selanjutnya ditutup dari pemaparan Pdt. Hardiyan Triasmoroadi selaku Pendeta GKJW Sukolilo yang berbicara tentang makna historis serta teologis dari Natal, juga dengan kontekstualisasi pesan Natal itu sendiri dalam bingkai kebangsaan dan toleransi.
UKM Musik UKDC - photo by @joe_sava
Menjadi harapan bagi penyelenggara dan juga peserta pada diskusi ini yakni bahwa perayaan natal kiranya tidak menjadi semata-mata perayaan teologis semata. Perayaan Natal sejatinya juga dapat menjadi perayaan kultural. Sehingga melalui itu, peristiwa natal menjadi momentum bagi umat beragama dapat menjalin silahturahmi serta mempererat hubungan. 

Written by @jacko.ryan
Editor @yonathanawaw

Senin, 11 November 2019

Dialog Katolik & Protestan "Berbeda-beda dalam Satu Tubuh"


Bertempat di Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Timur (GKI SW Jatim), Surabaya Interfaith Forum menyelenggarakan diskusinya yang pertama. Diskusi tersebut bertajuk “Dialog Katolik dan Protestan: Berbeda-beda dalam Satu Tubuh”. Dialog yang diadakan pada 9 November 2019 silam mengundang Bernardus Aris dan Jacko Ryan selaku pembicara. Keduanya merupakan representasi dari Katolik dan Prostestan, di mana sesuai dengan tema diskusi yang telah berlangsung tersebut.

Sdr. Bernardus Aris - photo by @masprob
Sesi pertama diawali dari pemaparan Bernardus Aris mengenai sejarah Gereja mula-mula hingga pada asalan mengapa terjadi perbedaan antara Katolik dan Protestan. Juga dengan sesi kedua yang dibawakan oleh Jacko Ryan yang menjelaskan berbagai usaha serta dialog yang sudah terjadi –antara Protestan dan Katolik- dan senantiasa diusahakan terus menerus. Itu merupakan salah satu bagian dari bentuk reformasi gereja saat ini yakni mulai terbuka pada semangat bercorak ekumenis. “Membarui tidak sama dengan meninggalkan yang lama. Gereja yang terus diperbarui (ecclesia reformata semper reformanda est) adalah ia yang juga memiliki tugas membarui sekaligus menyimpan tugas merawat sesuatu yang mungkin masih baik pada apa yang lama. Tanpa kesadaran ini maka terma ecclesia reformata bisa mengakibatkan keterputusan total dari gereja segala abad”, ungkap Jacko Ryan.

Bpk. Iryanto Susilo - photo by @masprob
Dialog yang dihadiri oleh puluhan pemuda lintas iman se Kota Surabaya tersebut pun berjalan dengan baik. Itu dapat terlihat tidak hanya muncul berbagai pertanyaan dari para hadirin yang ditujukan pada pembicara, namun juga diselingi oleh berbagai sharing dan pengalamannya dalam memandang Protestan dan Katolik. Mereka juga berharap agar berbagai diskusi juga dapat berjalan secara intens terutama antara Protestan dan Katolik. Hal tersebut, selain sebagai sarana belajar untuk mengetahui perbedaan antara Katolik dan Prostestan, namun juga sebagai wadah perjumpaan bagi pemuda-pemuda Gereja Prostestan dan Katolik.

Written by @jacko.ryan
Editor @yonathanawaw