Bertempat di Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Timur (GKI SW Jatim), Surabaya Interfaith Forum menyelenggarakan diskusinya yang pertama. Diskusi tersebut bertajuk “Dialog Katolik dan Protestan: Berbeda-beda dalam Satu Tubuh”. Dialog yang diadakan pada 9 November 2019 silam mengundang Bernardus Aris dan Jacko Ryan selaku pembicara. Keduanya merupakan representasi dari Katolik dan Prostestan, di mana sesuai dengan tema diskusi yang telah berlangsung tersebut.
 |
| Sdr. Bernardus Aris - photo by @masprob |
Sesi pertama diawali dari pemaparan Bernardus Aris mengenai sejarah Gereja mula-mula hingga pada asalan mengapa terjadi perbedaan antara Katolik dan Protestan. Juga dengan sesi kedua yang dibawakan oleh Jacko Ryan yang menjelaskan berbagai usaha serta dialog yang sudah terjadi –antara Protestan dan Katolik- dan senantiasa diusahakan terus menerus. Itu merupakan salah satu bagian dari bentuk reformasi gereja saat ini yakni mulai terbuka pada semangat bercorak ekumenis. “Membarui tidak sama dengan meninggalkan yang lama. Gereja yang terus diperbarui (ecclesia reformata semper reformanda est) adalah ia yang juga memiliki tugas membarui sekaligus menyimpan tugas merawat sesuatu yang mungkin masih baik pada apa yang lama. Tanpa kesadaran ini maka terma ecclesia reformata bisa mengakibatkan keterputusan total dari gereja segala abad”, ungkap Jacko Ryan.
 |
| Bpk. Iryanto Susilo - photo by @masprob |
Dialog yang dihadiri oleh puluhan pemuda lintas iman se Kota Surabaya tersebut pun berjalan dengan baik. Itu dapat terlihat tidak hanya muncul berbagai pertanyaan dari para hadirin yang ditujukan pada pembicara, namun juga diselingi oleh berbagai sharing dan pengalamannya dalam memandang Protestan dan Katolik. Mereka juga berharap agar berbagai diskusi juga dapat berjalan secara intens terutama antara Protestan dan Katolik. Hal tersebut, selain sebagai sarana belajar untuk mengetahui perbedaan antara Katolik dan Prostestan, namun juga sebagai wadah perjumpaan bagi pemuda-pemuda Gereja Prostestan dan Katolik.
Written by @jacko.ryan
Editor @yonathanawaw
Tidak ada komentar:
Posting Komentar